Beranda | Profil | Statistik Industri | Regulasi | Publikasi | Informasi Publik | Layanan Publik | Links | Hubungi Kami | Peta Situs

SIARAN PERS

LCGC Membawa Dampak Positif untuk Industri Otomotif Nasional


Siaran Pers


LCGC Membawa Dampak Positif untuk Industri Otomotif Nasional


 


Program pemberian insentif low cost and green car (LCGC) dan low carbon emission (LCE) diharapkan dapat memacu investasi industri otomotif dan mendorong pertumbuhan industri komponen di dalam negeri. Ada tiga bentuk insentif yang akan diberikan, yaitu: Pertama, insentif pembebasan bea masuk atas impor mesin dan peralatan dalam proses pemba­ngu­nan pabrik. Kedua, pembe­ba­­san tarif impor bahan baku dan komponen mobil yang belum bisa dibuat di Indonesia. Ketiga, peng­urangan pajak penjulan barang mewah (PPnBM). Hal tersebut disampaikan Dirjen IUBTT Budi Darmadi saat Jumpa Pers di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (10/6).


Dirjen IUBTT mengatakan, karena hanya untuk jarak dekat, aturan LCGC membatasi kapasitas mesin maksimal 1.200 CC. Mobil LCGC juga nantinya diharapkan hanya dipakai untuk mobilitas perkotaan. "Aturan LCGC tidak untuk semua kategori, hanya 1.000-1.200 CC. Sekarang trennya kalau orang mau pergi jauh itu pilihannya naik kereta atau pesawat. Jadi mobil ini memang tenaganya tidak harus besar, cukup yang dekat-dekat”. Karena didesain hanya untuk memenuhi kebutuhan transportasi jarak pendek, program ini tidak akan mematikan moda transportasi jarak jauh seperti bus atau kereta.


Sementara itu, kenapa mobil LCGC harus segera diproduksi di dalam negeri? Dirjen IUBTT menjelaskan, Thailand dan Malaysia saat ini sudah memproduksinya dan kebutuhan dalam negeri sudah cukup tinggi. “Target kita 60 juta pengendara sepeda motor adalah pembeli utama mobil LCGC. Kalau kebutuhan ini tidak dipenuhi, kita akan dibanjiri impor dari luar negeri,” tegasnya. Selain itu, program ini dapat menciptakan kemandirian di industri komponen power train, yaitu berupa engine dan transmisi excel, sehingga SDM otomotif di dalam negeri juga dapat tumbuh.


Dirjen IUBTT mengatakan, dalam mengembangkan program LCGC sebaiknya teknologi yang digunakan di dalamnya tidak dibatasi. Dengan begitu, diharapkan LCGC produksi Indonesia bisa memenuhi permintaan pasar ekspor. “Dalam dunia otomotif, semakin safe dan modern teknologi yang digunakan, maka semakin mahal. Filosofi itu berarti menyatakan kalau teknologi ada ongkosnya. Makanya teknologi jangan dibatasi. Dan, kita tidak akan membatasinya karena kalau dibatasi, misalnya ada pesanan dari Thailand dengan permintaan teknologi tertentu, maka kita tidak bisa supply. LCGC juga tidak hanya untuk pasar dalam negeri tapi untuk ekspor, dengan menargetkan ke 70 negara,” paparnya.


Hingga saat ini, regulasi LCGC masih dalam tahap harmonisasi dengan Kementerian-kementerian terkait. Adapun, merek otomotif yang secara resmi sudah menyatakan kesiapan untuk mengembangkan LCGC ini antara lain Daihatsu dan Toyota dengan target produksi LCGC sekitar 55 ribu unit. Sedangkan merek lain yang menyatakan berminat antara lain Honda, Suzuki, dan Nissan.  Kalau kelima produsen itu misalnya menghasilkan 50 ribu unit LCGC, maka produksi total kelimanya bisa mencapai 250 ribu unit. Namun itu tergantung kapasitas produksi masing-masing produsen. Bahkan, jika permintaan LCGC nanti tinggi, bisa mencapai 300 ribu sampai 600 ribu unit.


Dirjen IUBTT optimistis penjualan mobil LCGC akan mendapat sambutan positif dari masyarakat dan mendongkrak penjualan mobil. Harga LCGC yang murah serta pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan pendapatan per kapita masyarakat, akan membuat LCGC diminati oleh banyak masyarakat. "Jenis mobil ini diminati di daerah-daerah dengan daya beli yang tinggi. Ekonomi Indonesia terus berkembang, kelas menengah berkembang,” katanya.
Di wilayah Jabodetabek, target penjualan mobil LCGC bisa mencapai 20%. Target tersebut berkaca dari data Gaikindo, dimana penjualan mobil skala nasional di wilayah Jabodetabek sudah mencapai 20%.


Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.


Jakarta, 10 Juni 2013


Kepala Pusat Komunikasi Publik


 


Hartono


 



Share: