Beranda | Profil | Statistik Industri | Regulasi | Publikasi | Informasi Publik | Layanan Publik | Links | Hubungi Kami | Peta Situs

SIARAN PERS

Forum Bisnis Menperin dengan Pelaku Industri dalam Safari Ramadhan di Bandung


Siaran Pers


Forum Bisnis Menperin dengan Pelaku Industri


dalam Safari Ramadhan di Bandung


 


Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat mengajak kepada para pelaku usaha untuk terus bersinergi dengan Pemerintah dalam rangka mendorong pertumbuhan industri nasional di tengah kondisi perekonomian yang masih mengalami ketidakpastian, terutama menghadapi persiapan pemberlakuan AEC 2015. “Kami terus menghimpun berbagai masukan, usulan dan terobosan baru dari masyarakat dunia usaha mengenai langkah-langkah dan solusi dalam menghadapi tantangan di sektor industri nasional,” kata Menperin dalam sambutannya pada acara Forum Bisnis Menteri Perindustrian Dengan Dunia Usaha dan Instansi Terkait dalam rangka Safari Ramadhan 1434 H di Bandung, Sabtu – 13 Juli 2013.


Forum bisnis yangdihadiri jajaran eselon I dan II Kementerian Perindustrian serta pelaku usaha industri di Provinsi Jawa Barat mengangkat tema: “Mencari Terobosan untuk Menjaga Pertumbuhan Industri” khususnya di Provinsi Jawa Barat, dengan mengundang empat pembicara: Ketua KADIN Jawa Barat, Sekjen Gabungan Pengusaha Makanan & Minuman Indonesia (GAPMMI), Ketua Umum Asosiasi Mebel & Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI), serta perwakilan Kreative Independent Clothing Kommunity (Komunitas KICK) Bandung. Selain itu, pada kesempatan tersebut, Menperin memberikan secara simbolis paket Ramadhan dan Al-Quran untuk dibagikan ke pesantren di wilayah Bandung dan sekitarnya.


Dapat disampaikan, pada periode Januari sampai Mei 2013, total neraca perdagangan nasional mengalami defisit sebesar USD 2,52 milyar. Ekspor produk-produk industri pengolahan non-migas sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sehingga menghasilkan neraca defisit sebesar USD 8,95 milyar. Dilihat dari kategorinya, impor Bahan Baku dan Penolong memberikan kontribusi terbesar, yaitu 76,63% terhadap total impor nasional, diikuti Barang Modal sebesar 16,77% dan Barang Konsumsi sebesar 6,60%.


Menurut Menperin, meskipun mengalami neraca defisit, peningkatan impor Bahan Baku dan Penolong diharapkan dapat memberikan nilai tambah dan mendorong pertumbuhan industri nasional. Pertumbuhan industri non-migas yang cukup baik pada Triwulan I tahun 2013 sebesar 6,69% harus dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi seiring dengan meningkatnya kegiatan investasi dan produksi.


Di samping itu, Menperin mengatakan, pemberlakukan AEC pada Desember 2015 akan menjadi momen penting bagi Indonesia, karena akan memberikan peluang untuk memperluas pasar bagi produk-produk industri nasional. Namun di lain sisi, pemberlakuan AEC 2015 juga akan menjadi tantangan mengingat penduduk Indonesia yang sangat besar tentunya akan menjadi tujuan pasar bagi produk-produk Negara ASEAN lainnya. Apabila kita tidak mampu meningkatkan daya saing industri, dikhawatirkan produk-produk Indonesia akan kalah bersaing tidak hanya di ASEAN tapi juga di negeri sendiri,” tegas Menperin.


Oleh karena itu, pemerintah saat ini terus memanfaatkan banyak peluanguntuk menjaga pertumbuhan industri agar tetap tinggi,di antaranya: (1) Potensi perbaikan ekonomi di Jepang dan beberapa negara Asia pada tahun 2013 dan 2014; (2) Besarnya pasar dalam negeri dengan jumlah kelas menengah mencapai 134 juta orang; (3) Peningkatan investasi di dalam negeri baik PMA maupun PMDN; (4) Pertumbuhan sektor-sektor tersier yang cukup tinggi, yang dapat dijadikan penghela pertumbuhan industri; serta (5) Belanja pemerintah dan belanja modal (CAPEX) BUMN yang bisa diarahkan untuk Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). 


Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.


Bandung, 13 Juli 2013


Kepala Pusat Komunikasi Publik


 


Hartono



Share: