Daur Ulang Limbah Plastik dan Aspek Kesehatan Pekerja

Pemanfaatan limbah plastik dengan pemakaian kembali (reuse) dan daur ulang (recycle) merupakan salah satu solusi permasalahan sampah plastik di Indonesia. Pada proses daur ulang, bahan bekas produk polimerisasi sintetik atau semi sintetik dijadikan bahan baku kembali. Dengan demikian penggunaan bahan baku yang baru akan berkurang. Selain itu, dengan digunakannya bahan bekas ini berarti ada pengurangan kuantitas limbah plastik. Sampah plastik yang sedianya akan dibuang, justru dimanfaatkan untuk dijadikan bahan baku. Hal ini tentunay akan mengurangi polusi sampah. 

 

Proses daur ulang sampah plastik ini terdiri dari beberapa tahapan, yaitu pemilahan, pencucian, pemotongan dan pencacahan. Hasil akhir dari proses ini adalah biji pelet atau moulding yang memiliki kualitas yang baik. Proses daur ulang ini lazimnya melibatkan banyak tenaga kerja, baik laki-laki maupun perempuan, dan umumnya mayoritas pekerja pada sektor ini adalah kaum perempuan.

 

Seperti halnya industri yang lain, pekerja pada sektor daur ulang plastik rentan terpapar pajanan (exposure) dari bahan pembentuk plastik, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Bahan kimia dari plastik ataupun bahan tambahan di dalam plastik berpotensi membahayakan pekerja di sektor daur ulang dan juga mencemari tanah dan lingkungan. Pajanan (exposure) terhadap bahan kimia yang terkandung pada plastik bisa mengganggu kesehatan terhadap pekerja di sektor daur ulang.

 

Seiring dengan pesatnya informasi, perhatian masyarakat mengenai  pengaruh paparan bahan kimia berbahaya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan semakin meningkat beberapa tahun terakhir ini. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa paparan bahan kimia berbahaya, termasuk PBDEs dan UPOPs, diduga dapat mengganggu hormon dan memengaruhi kualitas sperma. Pada perempuan, PBDEs bisa memengaruhi janin pada masa kehamilan, kesehatan reproduksi, dan Air Susu Ibu (ASI) yang diberikan ke bayi. Selain itu PBDEs juga disinyalir dapat memengaruhi tingkat fertilitas dan meningkatkan risiko kanker.

 

Dampak paparan bahan kimia tentunya membahayakan semua orang, baik laki-laki maupun Perempuan. Namun karena anatominya, perempuan seringkali menjadi lebih rentan terpapar bahan kimia berbahaya. Perbedaan anatomi tubuh perempuan dan laki-laki ini menyebabkan perlindungan kesehatan dan keselamatan tubuh pada saat bekerja juga perlu memperhatikan adanya kebutuhan-kebutuhan spesifik jenis kelamin yang berbeda. Kebutuhan spesifik gender merupakan kebutuhan yang didasarkan pada kondisi anatomi tubuh setiap masing-masing jenis kelamin, perempuan dan laki-laki.

 

 

Cara PBDEs masuk ke dalam tubuh dan pencegahannya

Pada umumnya PBDEs dan zat berbahaya lainnya masuk ke dalam tubuh secara perlahan dan dalam jangka waktu yang lama. Ada tiga cara PBDEs masuk ke dalam tubuh, yaitu melalui pernafasan (terhirup), mulut (tertelan melalui makanan), dan kontak kulit. Untuk menghindari masuknya PBDEs masuk ke tubuh, pekerja di sektor daur ulang harus melindungi diri dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Penggunaan APD ini memberikan penghalang antar pekerja dan zat berbahaya.

 

APD standar yang harus dikenakan oleh pekerja di sektor daur ulang terdiri dari:

1.      Masker

2.      Goggle

3.      Sepatu boot karet

4.      Sarung tangan

5.      Apron

6.      Penutup kepala

 

Perlu diingat bahwa APD harus disimpan pada tempat yang bersih dan tertutup, bebas dari debu, kotoran, gas beracun, dan diletakkan di tempat yang tidak lembab. Harus dipastikan bahwa semua pekerja di sektor daur ulang ini harus secara disiplin mengenakan APD dan harus ada prosedur standar operasi yang mewajibkan pemakaian APD bagi pekerja. Beberapa APD standar adalah alat-alat yang digunakan sekali saja dan harus dibuang ketika selesai digunakan. Alat-alat yang dimaksud antara lain adalah masker (walaupun ada masker yang bisa digunakan berulang, namun biasanya yang digunakan adalah masker sekali pakai), dan penutup kepala (yang dimaksud adalah penutup kepala dari plastik, bukan helmet).

 

Sudah saatnya pekerja di sektor daur ulang di Indonesia lebih memperhatikan aspek kesehatan kerja. Penggunaan APD harus diterapkan secara ketat kepada pekerja daur ulang dan prosedur standar operasi harus dibuat dan diaplikasikan ke seluruh pekerja. Selain itu, perlu dilakukan sosialisasi kesehatan dan keamanan bagi seluruh pekerja di sektor daur ulang dengan memperhatikan aspek gender. Hal ini penting karena dampak paparan bahan kimia berbahaya ke pekerja laki-laki dan perempuan berbeda. Kondisi pekerja perempuan yang hamil dan menyusui, ketika terpapar bahan kimia berbahaya, tidak hanya memengaruhi dirinya sendiri tetapi juga janin yang dikandung dan bayi yang disusui.