Risiko Kerja di Sektor Daur Ulang: Dampak Pengelolaan Limbah Elektronik pada Kesehatan

Di tengah-tengah gunungan sampah, Supriyati (50), memilah sampah plastik ke dalam beberapa tumpukan. Sesekali ia mengusap keringat di wajahnya. Supriyati bekerja sebagai pemilah sampah plastik pada sebuah perusahaan daur ulang plastik dan ia telah melakukan pekerjaannya selama 10 tahun.

 

Setiap hari Supriyati mengendarai sepeda motor dari desanya di Mojoagung ke Trowulan, Jawa Timur. “Motivasi saya dalam bekerja adalah cucu-cucu saya. Saya ingin memberikan nafkah bagi keluarga saya,” papar Supriyati yang memiliki tiga orang cucu. Dalam melakukan pekerjaannya terkadang ia terluka akibat tersayat beling atau metal.  Ia juga sering mencium bau yang tidak menyenangkan dari sampah yang ada. Terkadang hal itu membuatnya pusing dan sulit bernafas. Untuk mengatasi keluhannya ini, tiap hari ia menyediakan obat-obatan yang ia beli dari warung terdekat.

 

Pekerjaan yang dilakukan Supriyati barangkali bukanlah pekerjaan ideal yang diinginkan banyak orang. Namun, Supriyati berupaya bersyukur mengerjakan pekerjaannya dengan sepenuh hati. Ia berharap agar kebersihan di tempat kerjanya bisa dijaga. Selain bekerja sebagai pemilah sampah di tempat daur ulang, Supriyati juga bekerja di kebun tebu. Ia bercita-cita untuk berjualan kopi di rumahnya sehingga ia bisa lebih bisa menafkahi keluarganya.

 

Supriyati berbagi suka dan duka dengan pekerja lainnya. Baginya, mereka tidak hanya sekedar teman kerja, tetapi juga teman dekat. Ia berbagi segalanya dengan rekan kerja lainnya, termasuk keluhannya tentang kesehatannya yang diderita selama tiga bulan terakhir. Terkadang Supriyati  mengalami hidung berdarah secara tiba-tiba. Keadaan ini membuatnya harus menemui dokter. Belum ada penjelasan penyebab keadaan yang dideritanya ini. Setiap mengunjungi dokter, Supriyati harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 700.000. Uang ini dipakai untuk membayar biaya dokter dan membeli obat. Dari pendapatannya senilai Rp. 200.000 per minggu, Supriyati tidak mampu membayar ongkos pengobatannya.


Industri Daur Ulang Plastik di Jawa Timur

 

Trowulan dikenal karena warisan dari masa lalu, yaitu kerajaan Majapahit yang pernah menjadi kerajaan terbesar di Nusantara. Dengan lebih dari 20 situs arkeologi, Trowulan telah menjadi Situs Warisan Dunia oleh UNESCO, sebagai satu-satunya situs arkeologis Hindu-Buddha di Indonesia yang masih tersisa hingga saat ini. Selain hal itu, Trowulan juga merupakan salah satu sentra pengolahan sampah elektronika di Indonesia, di mana ribuan pekerja melakukan aktivitas melalui perusahaan kecil dan menengah.

 

“Sudah lama sekali, sejak saya belum lahir. Saya kira sejak jamannya kakek-nenek saya ketika mereka mulai mengumpulkan dan memproses sampah. Mulanya hanya dari sampah warga di sekitar daerah ini, tapi sekarang kita sudah mengolah sampah dari daerah lain di pulau Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, dan bahkan Sulawesi,” papar Bpk. Ali Mustofa, Kepala Dusun Temenggunan, Desa Kejagan, Trowulan, ketika ditanya mengenai sejak kapan ada pengolahan sampah di Trowulan, yang saat ini mencapai 150.000 kg tiap harinya.

 

“Kebanyakan orang-orang di sini meminta bantuan kredit dari bank ketika akan memulai bisnis daur ulang. Kita sudah melakukannya sejak dulu.” Ketika itu, menurut pak Ali Mustofa, tidak banyak modal yang diperlukan untuk berinvestasi di bisnis daur ulang ini, dan keuntungan yang didapatkan cukup banyak, terutama ketika terjadi krisis keuangan di tahun 1998, ketika harga bahan mentah turun hingga 50% dari harga normal. Saat ini ada 34 industri yang menangani 2-4 ton sampah plastik dan 11 industri dengan kapasitas yang lebih besar lagi yang menangani beberapa truk yang beroperasi tiap harinya. Dari 45 industri di Dusun Temenggungan, hanya tiga industri yang dimiliki perempuan.

 

Setiap hari, jalan memasuki Dusun Kejagan dipenuhi oleh orang-orang dari desa tetangga yang bersiap-siap untuk bekerja. Kebanyakan dari mereka memiliki latar belakang pendidikan formal. Setelah menyelesaikan pendidikan formal, umumnya siswa-siswa lulusan sekolah formal di sekitar Trowulan bekerja di industri daur ulang. Data dari UNDP menunjukkan bahwa 85% orang dari Dusun Kejagan mendapatkan penghasilan mereka dari pekerjaan daur ulang. Namun, walaupun pekerjaan ini menguntungkan bagi pemiliki usaha, ada risiko yang harus ditanggung, terutama oleh para pekerjanya, yaitu paparan bahan kimia berbahaya.

 

Bahan kimia, termasuk pelambat nyala api (flame retardant), digunakan dalam pembuatan perabotan rumah, peralatan dapur, peralatan elektronika dan komponen otomotif. Dalam melakukan proses daur ulang benda-benda yang mengandung pelambat nyala api, seseorang harus berhati-hati, karena jika tidak dilakukan dengan benar hal ini bisa membahayakan. Emisi yang terjadi akibat pembakaran benda-benda yang mengandung pelambat nyala api bisa menyebabkan kanker, gangguan hormon, dan memengaruhi sistem reproduksi wanita, bahkan bisa mencemarkan air susu ibu.


Daur Ulang Plastik dan Peran Gender

 

Kaum perempuan lebih rentan terhadap paparan bahan kimia pada industri daur ulang sampah elektronika. Hal ini terjadi karena umumnya pekerja di industri daur ulang adalah kaum perempuan. Ada beberapa langkah yang harus diambil untuk meningkatkan aspek keselamatan kerja. Langkah-langkah ini termasuk memilah sampah, mencacah, menghancurkan, mencuci, mengeringkan, dan mengemasnya, sebelum sampah ini diproses menjadi mikrolastik. Seringkali, peran seseorang dalam proses ini ditentukan oleh jenis kelaminnya.

 

Data menunjukkan bahwa pemilah limbah plastik di kota-kota besar, termasuk Mojokerto, Banyuwangi, Jombang, Depok, Bekasi, Cianjur dan Bandung adalah kaum perempuan. Untuk mengidentifikasi tipe plastik sebelum dipilah, para pekerja yang umumnya perempuan ini mencium bau sampah plastik ini. Hal ini menyebabkan mereka lebih banyak mendapatkan dampak buruk dari racun kimia yang ada.

 

Kebanyakan pekerja di sektor daur ulang jarang mengenakan masker, sarung tangan, atau sepatu boot karet, dan mereka tidak memiliki atau sedikit memiliki pengetahuan mengenai bahaya yang mereka hadapi.

 

Pembagian tugas berdasarkan gender yang kaku menghasilkan kesenjangan dalam penghasilan. Perempuan yang bekerja di sektor daur ulang dibayar berdasarkan berapa banyak limbah plastik yang bisa mereka proses setiap harinya. Sebuah survey yang dilakukan di 7 kota di Jawa Barat dan Jawa Timur menemukan bahwa ketika 95% pekerja laki-laki mendapat bayaran Rp. 1.000.000 per bulan, 89% pekerja perempuan dibayar di bawah nilai tersebut.

 

UNDP bersama dengan Kementerian Perindustrian saat ini sedang bekerjasama untuk meningkatkan standar kesehatan dan keselamatan kerja serta mencapai solusi yang lebih baik bagi pekerja di industri sampah plastik  di Indonesia. Secara khusus, kerjasama ini difokuskan pada perempuan dan peran gender yang lebih setara.